Jumat, 15 Mei 2020

Konflik di Industri Pariwisata


Konflik dalam Pembangunan Pariwisata Jogja


Hai Guys!! Kembali lagi bersama saya, yap! Shabrina Maharani!!!

                Kalian pasti tau kan guys kalo didunia ini sangat banyak konflik yang terjadi. Salah satunya Konflik yang terjadi di Industri Pariwisata, kali ini saya akan membahas tentang ‘Konflik dalam Pembangunan Pariwisata di Jogja’. Langsung kita bahas aja yuk!

                Seperti yang kita ketahui, Jogja itu keren banget. Budayanya, suasananya, penduduknya, semua hal yang ada di Jogja bener bener bikin saya nyaman banget saat traveling ke Jogja. Rasanya gak cukup deh guys kalo cuma sekali kesana, pasti pengen balik lagi deh. Tapi banyak juga loh konflik yang terjadi di Jogja dalam bidang pariwisata. Seperti yang sudah dijelaskan dalah artikel yang di publikasikan oleh Balairung Press. Silahkan klik link dibawah kalau kalian mau membaca artikel nya ya guys!
               
                Di artikel tersebut disebutkan beberapa konflik yang terjadi mulai dari konflik dengan investor sampai air sumur warga yang mongering. Disini saya hanya akan membahas beberapa konflik dari artikel tersebut. Yang pertama, konflik terjadi di salah satu pantai yang bernama Pantai Watu Kodok. Jadi sejak awal, Pantai Watu Kodok ini dikelola dan dijadikan lokasi untuk mencari rumput laut oleh warga setempat. Rumput laut itu akan dikonsumsi atau dijual dan hasilnya untuk biaya kebutuhan warga. Nah semakin lama, makin banyak wisatawan yang datang ke Pantai Watu Kodok guys. Akhirnya warga berinisiatif untuk membuka Pantai Watu Kodok ini sebagai tempat wisata karna pantai ini juga cantik banget guys. 



                Cantik banget kan.. cocok deh buat liburan akhir perkan hehe, lanjut. Setelah warga berinisiatif untuk menjadikan Pantai Watu Kodok sebagai tempat wisata, tiba tiba Pemerintah Desa setempat datang dan menyatakan bahwa Sebagian Kawasan Pantai Watu Kodok sudah dikontrak oleh Warga Jakarta bernama Eni Supiani guys. Setelah itu datang Pemerintah Kabupaten bersama Pemerintah Desa dan Kuasa Hukum Eni yang mengklaim bahwa seluruh Kawasan Pantai watu Kodok telah dikontrak oleh Eni. Karna seluruh Kawasan Pantai sudah dikontrak, warga harus meninggalkan Kawasan Pantai tanpa ganti rugi dan relokasi. Dan warga pun hanya diberi tawaran untuk menjadi tukang sapu dan tukang masak, namun warga menolak tawaran tersebut dan memilih bertahan sampai sekarang. saya kalau jadi warga juga mungkin akan melakukan hal yang sama, karna kalau warga meninggalkan Kawasan pantai mereka akan kehilangan pekerjaan nya.

                Oke Guys sekarang kita lanjut ke Konflik yang kedua. Konflik ini terjadi bukan di Kawasan Pantai melainkan di Kawasan Kota. Konflik disebabkan oleh pembangunan hotel, sudah banyak hotel berbintang yang didirikan di Jogja dan pemiliknya pun bukan Warga Jogja. Dan sudah pasti pembangunan Hotel berbintang ini menruntuhkan hotel hotel tradisional milik warga Jogja. Tapi ya guys, saya kalo ke Jogja nginep nya di Hotel Milik warga Jogja loh. Lebih cenderung ke Losmen tapi nyaman banget, suasana jogja nya dapet banget guys. Oke lanjut, tapi yang kita bahas bukan tentang persaingan Hotel Berbintang dengan Hotel Milik Warga Jogja. 

                Konflik terjadi karna Warga mengalami Krisis air semenjak didirikan nya hotel berbintang. Jadi guys, hal ini terjadi karna hotel membuat sumur dengan cara mengebor tanah. Padahal sudah ada aturan bahwa Hotel harus memanfaatkan air Perusahaan Air Minum (PAM), dan tidak boleh ngebor. Tetapi pihak hotel tidak menanggapi dan melanggarnya, akibatnya sumur warga yang sejak dulu tidak pernah kering pun sampai mongering dikarenakan pembangunan hotel. Salah satu warga Jogja pun mengkritik soal pariwisata Jogja yang mengarah kepasar dengan banyaknya hotel. Padahal guys, menurut nya yang membuat Jogja istimewa itu adalah budayanya dan apabila ada wisatawan yang datang itu hanyalah bonus.

                “wisatawan ke Jogja itu tidak masuk Hotel, tapi masuk ke kampung dan berinteraksi dengan warga. Dan apabila menginap dirumah warga, itu akan lebih berguna bagi warga” tutur Dodo, salah satu Warga Jogja. Saya sedih juga ya bacanya, Warga Jogja yang memang sudah dari dulu berada di Jogja merasa tergantikan oleh pendatang. Tapi ini lah, selalu ada konflik yang terjadi kan. Gak mungkin semua nya berjalan dengan lancar, yang terpenting konflik harus tertatasi dengan baik dan benar.

So guys, saya rasa cukup untuk blog kali ini. Terima kasih sudah membaca dan saya minta maaf apabila ada salah salah kata.
Have a nice day!! Good Bye!!

1 komentar:

Konflik di Industri Pariwisata

Konflik dalam Pembangunan Pariwisata Jogja Hai Guys!! Kembali lagi bersama saya, yap! Shabrina Maharani!!!                 Kal...